MISI DAN KEBUDAYAAN DALAM PENGINJILAN
JURNAL
MISI
DAN KEBUDAYAAN
Abstrak
Apa bila melihat Realita yang
ada, ketika melakukan misi, seringkali mengabaikan suatu kebudayaan dari tempat
yang kita kunjungi untuk menyampaikan Kebenaran sehingga hal inilah yang
membuat penyampaian misi menjadi tidak Efektif dan bisa saja membuat tujuan
dari misi menjadi gagal. Perlu diketahui bahwa sebuah tindakan dalam misi yang
dilakukan di suatu daerah, harus benar-benar dapat di terima oleh masyarakat
yang berada di daerah tersebut sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat
telaksana dengan baik. Ketika ingin mendapatkan suatu jalan masuk agar dapat
diterima dan hidup bersama-sama di tengah masyarakat setempat ialah dengan
mengikuti atau hidup di dalam suatu kebudayaan yang ada di masayarakat (daerah
yang dikujungi). Maka sangat perlu untuk memahami kebudayaan lebih lagi, karena
suatu kebudayaan ialah sendi dasar dalam menciptakan kehidupan dalam suatu
komunitas atau masyarakat. Maka dalam melakukan misi, perlu untuk memahami nila
kebudayaan yang ada di dalam masyarakat yang menjadi tempat tujuan melakukan
misi.
Akan tetapi ini bukanlah
berarti sebuah pelayanan misi hanya bergantung dari suatu kebudayaan. Sebuah
misi haruslah mempunyai suatu dasar yang kuat menganai kebudayaan.
Kata kunci : Misi, Kebudayaan,
Masyarakat
PENDAHULUAN
Setiap daerah yang berada di
Indonesia, memiliki adat istiadat dan kebudayaan yang berbeda-beda. Dengan
adannya sebuah kebudayaan maka akan memberikan suatu ciri khas yang ada di
dalam daerah tersebut serta akan mempermudah orang lain mengenal sesamannya
melalui kebudayaannya[1].
Dengan adannya adat istiadat juga membuat pekambaran injil menjadi kurang baik,
hal ini disebabkan apabila seseorang ingin melakukan pekabaran injil di suatu
daerah tertentu maka orang tersebut harus menyesuaikan dirinnya dengan keadaan
atau kondisi di daerah yang dikunjunginnya. Maka sangat perlu untuk memahami
kebudayaan daerah yang akan di tujuh sehingga benar-benar kebenaran yang akan
kita sampaikan dapat diterima dan tepat sasaran sesuai dengan apa yang telah
ditargetkan.
Di dalam suatu Misi dalam
sebuah konteks kebudayaa, penulis menggunakan metode Literary Reearch, dimana
sebuah metode yang berdarkan hasil dari penyelidikan buku-buku dan literature
yang membahasa mengenai topik tersebut. Dengan ini penulis memberikan sebuah
deskripsi yang bertujuan untuk membangun membangaun sebuah hubungan antara
budaya dan misi. Hal ini dilakuakn oleh penulis agar terciptannya pengertiaan yang
benar mengenai topik yang akan dibahasa, sehingga pemberitaan Injil kebenaran
dapat tersampaukan dengan baik.
KAJIAN PUSTAKA
1.
Pengertian
misi
Kata Misi (Mission) beraal
dari Bahasa latin yaitu “missio”, hal ini berkaitan dengan kata “missum”, yang
memiliki arti yaitu “to send”( menggirim atau mengutus). Istilah tersebut lebih
menekankan mengenai mengirim dengan suatu ptoritas. Maka dari itu, yang dikirim
atau diutus harus diperlengkapi denga otoritas dari yang mengirim dalam suatu
tujuan khusus yang akan dicapainnya. Perlu diketahui bahwa Allah sebagai
pengutus, dimana Allah adalah sumber, inisiator, dinamisator, pelaksana, dan
penggenap misi-Nya. Maka dapat dikatakan bahwa Allah sebagai pemiliki dari Misi[2].
Menurut Harianto misi,
merupakan suatu karya Allah yang dipercayakan kepada manusia yang melaksanakan
pemberitaan injil sampai ke ujung bumi (matius 28:19-20)[3]. Di
dalam nats tersebut sangat jelas menyatakan bahwa misi dereja ialah pergi
menjadikan semua bangsa muird Kristus, membabtis dan mnegjar mereka dalam
melakukan tugas yang telah diajarkan dan diperintahkan oleh Kristus.
2.
Pengertian
budaya
Kebudayaan ( budaya) berasal
dari Bahasa Sanskesta (buddhaya), yang adalah bentuk jamak dari Buddhi (budi
atau akal) yang dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal budi
manusia. Budaya juga merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwarisi dari generasi ke generasi
Menurut Edward Tylor
Kebudayaan merupakan suatu
keseluruhan yang kompleks, yang didalamnnya terkandung pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, adat istiadat dan kemampuan lain yang diperoleh
seseorang sebagai anggotra masyarakat[4].
Menurut D. Hendropospito,
kebudayaan merupakan suatu keseluruhan pola kelakukan lahir dan batin yang memungkinkan
adannya suatu hubungan sosial di antara anggota-anggota di suatu masyarakat[5].
2.1.Ciri-ciri kebudayaan antara lain yaitu:
a.
Bersifat
Memaksa
Masyarakat di dalam suatu
kelompok budaya tersebut dipaksa dalam mengikuti adat atau budaya yang ada di
suatu tempat yang dikunjungi. Contohnya dalam hal: sopan santun, Bahasa, cara
berpikir dan lain sebagainnya. Maka dari itu seseorang yang terlahir di dalam
suatu daerah akan tumbuh dan berkembang di masyarakat tersebut dan secara
otomatis akan hidup sesuai dengan tradisi dan budaya setempat.
2.2.Relasi Injil dan Kebudayaan
Umat
manusia yang ada di bumi ini tidak akan pernah terlepas dari suatu budaya,
bahwa gereja dan ini pun tidak dapat dipisahkan dari suatu budaya maupun dari
struktur budaya manapun. Setiap prinbadi manusia memiliki kemampuan dalam
mempertahankan identitasnnya dengan cara memusatkan kembalai setiap budaya yang
dipakai kepada Kristus. Maka dari itu seorang yang percaya (Kristen) sudah
sesahrusnnya memiliki mental yang kuast demi mempertahankan identitas yang
telah melekat susuai dengan kebenaran Frman Alah.[6]
Beberapa motode Relasi Injil dan Kebudayaan menurut H.
Richard Niebuhr
a.
Sikap
Radikal : Kristus menentang kebudayaan
Sikap ini lebih emnekankan pertentangan antara Kristus
dan kebudayan. Hal ini dikarenakan ada pandangan orang yang menyatakan bahwa
Kristus dianggap berlawanan dengan masyarakat. Sikap ini berpedoman pada (1 Yohanes
2:15-16), yang menyatakan bahwa seseorang yang setia kepada Yesus Kristus harus
menolak dunia.
3.
Masyarakat
Masyarakat alam Bahasa inggris
siebut “society”asal kata yaitu “socius”yang asrtinya Kawan. Kata masyarakat
berasal dari kata arab yaitu “syirk” yang berarti bergaul atau dalam Bahasa
ilmiannya yaitu interaksi[7].
Maka dapat dikatakan Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah
sistem semu tertutup atau semi terbuka, dimana sebagian besar interaksi ialah anatara
individu-individu yang berada di sebuah kelompok tersebut.
HASIL
DARI PEMBAHASAN
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka hal yang harus diperhatikan ialah bahwa ketika seseorang ingin melakukan suatu penginjilan di daerah tertentu, maka perlu untuk mengetahui dengan baik kondisi di dalam daerah tersebut khususnya mengenai budaya yang ada di daerah tersebut, karena budaya merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam masyarakat tertentu. Perlu memilik sikap renda hatai, saling menghargai satu, sikap hormat dengan yang lain dan lain sebagainnya, karena tanpa hal-hal yang baik dan sikap menghormati maka seorang yang ingin menyampaikan kebenaran di daerah tersebut akan sulit di terima oleh masyarakat yang ada di daerah itu. bukan budaya yang menjadi hal yang paling utama dalam mengenal Kristus namun nilai kebenaran yang harus ditanamkan di dalamnnya. Dan tentu yang paling utama agar dapat menjalankan misi dengan baik yaitu penyertaan Tuhan.
[1]
Koentjaraningrat, “Kebudayaan,
mentalitas dan pembangunan”: Jakarta: Balaipustaka, 2011
[2]
Craig Van Gelder dan Dwight J.
Zscheile, The Mission Church in Perspective: Mapping Trend and Shapping the
Conversation: (USA: Baker Academi, 2017)
[3]
Harianto GP, “Komunkasi Dalam
Pemberitaan Injil”: (Yogyakarta: ANDI, 2019).
[4]
Widiyaningtyas Ester. “teori
dan implementasi misi (misi yang membawa transpormasi di era masa kini” :
Malang: Steviera Literatur
[5]
D. Hendropuspito, “Sosilogi
Sistematik”( Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1989)
[6]
John Powell, Visi Kritiani:
Kebenaran yang memerdekakan kita “: Yogyakarta: Kasinus, 1997).
[7] Koentjaraningrat “pengantar Ilmu
Antropologi”: Jakarta : Aksara Baru, 1979
sangat membantu Tugas kuliah genkkk
BalasHapusSaya tunggu post berikutnya
Tambah lagi tentang teologi BB misi dan ekonomi kreatif
BalasHapus